Pages

Rabu, 10 Februari 2016

Quo Vadis Hutan Indonesia: Pinjam Pakai Kawasan Hutan kini Tanpa Kompensasi Lahan



Aturan mengenai pinjam pakai kawasan hutan tanpa kompensasi lahan, entah siapa yang mengusulkan, sudah ditandatangani Presiden Joko Widodo. Produk hukumnya PP Nomor 105 Tahun 2015. Sejauh ini belum ada yang menentang PP yang terkesan dadakan dan seolah bertujuan untuk memacu pembangunan infrastruktur. Adakah terkait juga dengan rencana proyek kereta cepat?
Padahal, Perum Perhutani, sebagai pengelola hutan Jawa sudah menyampaikan pemikiran berbeda.
Direktur Utama Perum Perhutani Mustoha Iskandar, tengah tahun lalu, menyatakan lahan pengganti tetap diperlukan untuk mempertahankan luas kawasan hutan di Jawa. Satu-satunya BUMN kehutanan itu juga siap menjadi penyedia lahan pengganti agar pembangunan infrastruktur tetap bisa berjalan.
“Sebanyak 70% konflik tenurial yang terjadi diakibatkan tidak tuntasnya lahan pengganti pada proyek-proyek infrastuktur,” kata dia di Jakarta, Selasa (23/6/2015).
Langkah Perhutani yang tetap meminta lahan kompensasi tak lepas dari arahan yang diberikan Menteri BUMN Rini Mariani Soemarno. Menteri Rini, bahkan kabarnya sudah melayangkan surat kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya terkait hal itu. Mustoha membenarkan, bahwa ada arahan dari Menteri BUMN agar Perhutani bisa menjaga aset kawasan hutannya.
Jika melihat ke belakang, Perhutani bukan satu-dua kali harus merelakan kawasan hutan yang dikelolanya untuk pembangunan strategis dan infrastruktur sumber daya air. Pembangunan Waduk Cirata dan sejumlah infrastruktur lainnya, termasuk waduk Jatigede yang segera diresmikan ternyata masih menyisakan persoalan lahan kompensasi. “Sampai saat ini masih ada beberapa lahan kompensasi yang belum diselesaikan,” kata Mustoha.
Salah kasus lahan pengganti yang tidak tuntas dan menyisakan masalah adalah tukar menukar kawasan hutan untuk perkebunan tebu negara seluas 12.000 hektare di Majalengka, Jawa Barat. Proses tukar menukar yang sudah disepakati sejak tahun 1978 itu hingga kini belum juga tuntas. Saat ini masyarakat sedang mengajukan gugatan class action agar lahan tersebut dikembalikan sebagi kawasan hutan.
Landbanking
Lambannya penyediaan lahan kompensasi untuk pembangunan infrastruktur proyek pemerintah, adalah mekanismenya yang harus mengikuti proses APBN. Padahal, situasi di lapangan berkembang sangat cepat dengan harga tanah yang terus melambung.
Ajaibnya, sebuah perusahan tambang bisa menyediakan lahan dengan mudah seluas seribuan hektare, sebagai kompensasi kegiatan eksploitasi di Gunung Tumpang Pitu, Banyuwangi, Jawa Timur. Berkaca pada kasus ini, Mustoha yakin, persoalan lahan kompensasi bisa diselesaikan lebih mudah jika dilakukan dengan pendekatan bisnis. “Kalau ada perusahaan yang bisa, kami juga bisa,” katanya.
Itu sebabnya, Perhutani pun akan mengajukan diri untuk menjadi penyedia lahan dan membentuk land banking pada proyek infrastruktur strategis. Hal itu memastikan proyek-proyek penting tetap bisa berjalan.
Dengan membangun landbanking, maka Perhutani akan mencari dan membeli lahan yang akan dijadikan kompensasi proyek infrastruktur. Mustoha menjelaskan, untuk pembelian lahan tersebut bisa merogoh kocek sendiri. “Bisa juga kami tawarkan kepada Dana Pensiun jika berminat, ini kan investasi juga,” katanya
Nantinya APBN akan mengganti investasi yang sudah dikucurkan untuk menyediakan lahan pengganti. Proses demikian akan lebih ringkas dan efektif, meski sama-sama memanfaatkan dana APBN.
Mustoha juga yakin, pihaknya tak kesulitan mecari lahan pengganti. Menurut dia jika memang serius diinventarisasi, mencari lahan kosong seluas 1.000-2.000 hektare di Jawa masih dimungkinkan. “Kalau untuk pengganti pembangunan waduk, masih ada di Jawa,” katanya.
Prosedur yang ditawarkan Perhutani pun lebih mudah diimplementasikan. Hal ini dikarenakan dasar hukum yang mesti dibongkar tidak rumit. Revisi cukup dilakukan pada Peraturan pemerintah (PP) No. 72 tahun 2010 tentang Perusahaan Umum Kehutanan Negara (Perum Perhutani), yang memberi ruang bagi Perhutani untuk membentuk landbanking.
Sementara jika rencana mekanisme pinjam pakai tanpa kompensasi coba diwujudkan, berarti itu harus mengamandemen Undang-undang No.41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Sebab dalam Pasal 18 ayat 2 UU Kehutanan tersebut, luas kawasan hutan pada satu Daerah Aliran Sungai (DAS) dan atau pulau minimal 30% dengan sebaran yang proporsional. Saat ini saja, luas kawasan hutan Jawa sudah pas-pasan.
“Proses pembahasan revisi PP 72 tahun 2010 sudah kami lakukan. Dalam waktu dekat kami harap bisa selesai,” kata Mustoha.
Impian dari para profesional usaha hutan ini agaknya buyar dengan hadirnya PP nomor 105 Tahun 2015. Hutan yang hilang biarlah berlalu, cukup diganti dengan program reboisasi. Kecuali ada yang berani melangkah melakukan judicial review sebelum UU No. 41 Tahun 1999 diamandemen. Balapan, deh.

Kamis, 21 Mei 2015

Kopi dan Pinus Tumpang Sari Serasi

Pagi-pagi kami sudah mendaki, jalan setapak tepi hutan, di tengah lautan pohon teh peninggalan Belanda, yang kini dimiliki perusahaan pemerintah. Sasaran kami adalah rimbunan hutan Perhutani, sekira 3 kilometer berjalan kaki dari jalan raya Cisarua Lembang. Tujuan, historical walk seperti yang dilakukan para ambtenaar mengawasi perkebunan kopi perdana penghasil gulden, sebelum Indonesia merdeka.
Sejuk, basah embun, dan segar aroma terapi dari beragam tumbuhan kaki gunung, menyambut lima manusia kota pencinta antioksidan hitam yang paling banyak diminum di seluruh dunia. Kaki gunung Tangkuban perahu ini mulus udaranya, bersih tanpa asap racun kendaraan dan industri. Ke bawah kami melihat Bandung Kota, berselimut smog, tempat kami semua berkeluarga dan bekerja. Jika boleh memilih, kami ingin menancapkan kaki di sini, bergumul dengan botani asri, dan tak ingin kembali, ke dunia ilusi dan polusi.
Sayangnya hal ini pun hanya mimpi. Hari itu kenyataannya adalah napak tilas sekaligus olah raga hiking sekaligus survei untuk feasibility study agribisnis specialty coffee. Setelah mendaki dan turun lagi, menikmati racikan kopi dari petani sejati, berdiskusi dan negosiasi visi-misi, kami pasti harus kembali bangkit dari mimpi, dan menjajaki serta mendalami peluang dan tantangan berusaha tani. Selanjutnya hari-hari akan dipenuhi promosi dan kompromi dengan kawan-kawan yang berminat investasi. Niat kami adalah ingin kembali merajut kejayaan anak negeri dalam industri dan seni kopi.
Coffee tour pagi itu langsung dipandu oleh sang petani kopi penuh dedikasi, Yoseph Kusuniyanto. Dengan ransel di punggung dan kelewang tebas di tangan, Yoseph berjalan di depan sambil memberikan kuliah lapangan mountaineering. Sesekali berhenti sambil menunjukkan panorama indah untuk diabadikan dengan kamerapocket, hape, dan SLR, yang dimiliki masing-masing turis kaget, yaitu Harris, Dedem, Beben, dan saya sendiri Dainsyah. Dedem adalah teman se-almamater Yoseph dari PAAP Unpad; saya dan Harris adalah alumni Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB, dan Beben adalah lulusan FPMIPA UPI.

Satu jam berlalu, sampailah kami ke tempat yang dituju; tegakan pinus milik Perhutani, yang disela-selanya ditanami kopi oleh masyarakat sekitar yang tergabung dalam kelompok tani. Kerjasama ini dilandasi oleh dokumen legalisasi yang antara lain mengatur larangan menebang Pinus merkusii dan silakan menanam kopi dengan skema bagi hasil. Tumpang sari pinus-kopi ini sungguh serasi.
Yoseph bercerita tentang jerih payah para petani peserta program dalam menyiangi belukar, menyingkirkan gulma, menanam kopi, dan merawat pohon kopi berupa pemupukan dan pemangkasan beberapa kali, hingga masa panen di usia 2 tahun. Kopi-kopi yang diurus Yoseph ini sedang belajar berbuah, usia sekira 1,5 tahun. Kami diijinkan panen hanya buah kopi yang benar-benar matang. Tidak banyak, tetapi cukup untuk memenuhi tantangan bahwa kopi Lembang jenis caturra yang dihasilkan di sini tidak kalah dengan sensasi dan sugesti kopi luwak.
Adalah Harris yang akan menjadi “juri” menjajal bukti sensasi kopi Lembang, nanti, di rumah Yoseph, sebagai akhir tur kopi ini. Harris, ahli embriologi bayi tabung ini, telah menikmati segala kopi di cafe-cafe di Bandung. Sepanjang perjalanan ini, Harris pun berbagi cerita ihwal kedai kopi dengan berbagai teknik penyajian unik di seantero kota kembang, mulai seduhan kopi dengan mesin espresso, hingga teknik seduh asal tradisi Vietnam, Prancis, Turki, Itali, Inggris, dll.
Kembali ke kebun kopi, selain jenis caturra, Yoseph juga menanam sedikit jenis ateng, yang sesungguhnya lebih populer di kalangan petani lain. Mengapa lebih suka caturra? Yoseph menjelaskan sejarah panjang riset yang telah ia lakukan dengan berbagai ragam varietas kopi. Dengan melibatkan barista dari dalam dan luar negeri, yoseph akhirnya menjatuhkan pilihan pada jenis caturra.
Kopi arabica caturra berperawakan lebih pendek dan kompas sehingga lebih mudah dalam pemanenan. Karena jarang dibudidayakan, diharapkan menguntungkan dalam supplay-demand. Arabica caturra juga unggul dalam aroma dan rasa sehingga sering menjuarai kontes di festival kopi di seluruh dunia. Arabica ateng memiliki sosok lebih tinggi dan lebih produktif. Sebagai komoditi untuk menyuplai industri kopi, menanam ateng jelas lebih menguntungkan, tetapi untuk kategori specialty coffee, arabica caturra lebih menjanjikan, kata Yoseph.
Memiliki usaha tani kopi di pinggir kota besar sekelas kota cerdas Bandung adalahadvantage bagi petani kopi kategori specialty di Lembang. Apalagi Bandung, yang telah memiliki brand image yang kuat sebagai kota wisata kuliner, dengan jarak yang sangat dekat dengan Ibukota Jakarta, hanya perjalanan 3 jam via jalan tol, menjadikan Lembang dan petaninya akan kecipratan rejeki dari manisnya bisnis biji pahit di Ibukota Asia Afrika ini.
Satu-satunya kendala atas peluang usaha ini adalah masih rendahnya apresiasi masyarakat kita akan kopi kategori specialty. Diketahui Indonesia adalah negara terbesar ketiga sebagai produsen kopi di dunia, tetapi nomor 1 sebagai produsen kopi jenis  arabica. Di negara produsen kopi lainnya, seperti Brasil dan Vietnam, jenis robusta masih mendominasi.  Jenis kopi arabica dikenal memiliki harga jual yang lebih bagus ketimbang robusta, yang menang dalam volume. Keunggulan Indonesia sebagai produsen kopi terbesar di dunia, sayangnya  tidak didukung oleh jumlah penikmat. Selain kuantitasnya yang rendah, apresiasi terhadap specialty coffee pun masih rendah. Justru orang eropa menjadi penikmat kopi sejati.
Indonesia yang berada di ring of fire, dengan rangkaian gunung apinya, dari ujung Sumatera hingga Papua, memiliki potensi menjadi kekaisaran kopi di dunia. Dengan jenis dan varietas kopi yang sama, gunung yang berbeda dapat menghasilkan citarasa dan aroma kopi yang berbeda dan unik. Sebelum mencapai volume produksi yang memadai untuk syarat ekspor, seyogyanya apresiasi masyarakat dapat menjadi faktor penentu dalam memajukan agribisnis kopi spesial yang diulas di atas.
Faktor penentu lainnya untuk mendukung kejayaan para petani kopi specialty, adalah keberadaan para barista. Relasi yang baik antara Yoseph dan para barista yang sering berkunjung ke rumahnya dan melakukan cupping, adalah kiat sukses Yoseph dalam meningkatkan harga dan nilai kopinya. Salah satu barista yang bekerja sama dalam budi daya kopi khusus ini adalah Natanael Charis,

Natan, begitu panggilan akrab pendiri Morning Glory Academy ini, menyediakan bibit kopi unggul, untuk dibudidayakan oleh Yoseph di Lembang. Melihat prestasi Natan yang telah berhasil mencetak kopi yang ditanam di Garut menjadi kopi juara kelas dunia, bukan mustahil akan mengharumkan nama kopi Lembang juga, nantinya.
Yoseph juga menjelaskan bahwa denyut gejolak bangkitnya kopi di tempat yang merupakan lahan asal-usul  pertanian kopi nusantara pada jaman Belanda, juga ditandai oleh berdirinya usaha wisata dan edukasi kopi dan luwak di Cikole, Lembang. Ada banyak kelompok tani selain Yoseph dkk yang sudah bergerak sejak beberapa tahun terakhir. Diramalkan, dalam beberapa waktu ke depan, kopi Lembang akan cetar membahana.
Setelah lebih dari 3 jam berjalan dan bercerita tentang nostalgia dan masa depan kopi nusantara, kami kembali ke rumah Yoseph, tempat benih dan bibit disiapkan sebelum naik gunung untuk ditanam.

Yoseph kemudian menyangrai (roasting) biji kopi yang telah dijemur (green bean).Dengan kompor gas dan alat sangrai tradisional dari tanah liat, proses sangrai merebakkan aroma kuat yang khas. Sekira 20 menit, proses pemanggangan selesai, biji kopi coklat kehitaman didinginkan, lalu digiling. Yoseph membuat kopi tubruk, sedangkan Harris membuat kopi dengan teknik french press dan moka pot. Selain kopi yang diproduksi Yoseph, kami juga membawa kopi luwak asal Bandung selatan untuk “diadu”. Hasilnya, kopi Yoseph menang kesegaran, aroma, kemanisan dan karamel. Inilah tanda-tanda kopi Lembang kembali berkembang.

Kamis, 14 Mei 2015

Jadi Jutawan Dengan Sisa Uang jajan

Dengan bermodal sejumlah sisa uang jajan, kamu bisa menjadi jutawan. Untuk berpenghasilan ratusan ribu bahkan jutaan rupiah per hari, kamu tidak harus memiliki gelar sarjana dan bahkan tidak perlu mengabdi menjadi pegawai bertahun-tahun. Kamu hanya perlu memanfaatkan sebaik-baiknya sisa uang jajan mu sebagai investasi bisnis. Dan itu kamu lakukan cukup hanya sekali saja seumur hidup. Investasi sisa uang jajan untuk jadi jutawan.
Mungkin kah dengan modal sangat kecil bisa jadi jutawan? Kenyataannya mungkin.
Kamu bisa melipat-gandakan penghasilan dari modal yang sangat kecil ini dengan tambahan pekerjaan sambilan, yaitu menjadi "bintang iklan". Siapa pun bisa menjadi bintang iklan dan sudah sejak kecil mungkin, kita semua menjadi bintang iklan amatir. Bedanya, kali ini kamu dihargai dan dibayar tinggi jika mampu menjadi bintang iklan yang efektif.
Caranya, kamu cukup membelanjakan sisa uang jajan mu untuk produk sehari-hari yang selalu digunakan orang, yaitu sabun. Beli sabun, penghasilan bejibun.
Sisa uang jajan mu itu diinvestasikan atau dijadikan modal untuk bisnis produk sabun wajah. Merk sabunnya Biogano.

Selasa, 12 Mei 2015

Daun Afrika Juara Champion

Daun afrika Vernonia amygdalina Del tampaknya akan meraih piala champion dalam kompetisi liga khasiat tangkal penyakit. Pada kategori penyakit apa pun, Anda dapat memperhadapkan semua herbal satu per satu head to head melawan daun afrika. Daun afrika sulit ditandingi. Meski pun pada beberapa kategori kasus, simplisia tanaman lain lebih unggul, daun afrika menujukkan perlawanan gigih untuk tetap mendapatkan nilai.
Keunggulan dahsyat khasiat daun afrika terlihat saat menghadapi simplisia herbal lain dalam kategori insomnia dan demam. Pada kategori penyakit ini, efek penyembuhan daun afrika dapat ditunggui dalam hitungan menit.
Keunggulan mutlak juga terjadi pada kategori diabetes, penyempitan jantung dan pembuluh darah, rematik dan asam urat. Dalam hitungan beberapa hari, daun afrika dengan nyata mengungguli kinerja tanaman herbal lain. Sebutlah daun sukun, mulai dari memilih usia daun pun telah menjadi masalah, lalu jelas daun sukun tak mungkin dimakan langsung mentah-mentah. Daun binahong pun agak kerepotan menghadapi keluwesan rasa dan tekstur daun afrika. Daun afrika sekali lagi menang. Hasil akhirnya pun menunjukkan daun afrika lebih konsisten jika menyangkut statistik persentase kemanjuran.
Daun afrika telah menanamkan namanya pada beragam jurnal ilmiah dan klinis. Silakan Anda sebut nama penyakit apa pun pada mesin pencari google.com lalu rendengkan dengan nama ilmiah daun afrika, yaitu Vernonia amygdalina, maka akan selalu ada artikel/dokumen/laporan yang diinginkan. Kalau pun daun afrika tidak merupakan bahan utama dalam perlakuan pengobatan, setidaknya daun afrika bisa ambil bagian dalam terapi adjuvant. Hampir dipastikan daun afrika dapat memposisikan dirinya pada semua kasus penyakit, seminimal apa pun peran dan fungsinya.
Daun afrika juga memahatkan namanya pada pustaka ilmiah dan medis-klinis ihwal tumor dan kanker. Tidak terhitung jumlah penelitian meningkat dari tahun ke tahun. Satu lagi penyakit hebat yang mulai diujicobakan ketahanannya menghadapi daun afrika adalah HIV/AIDS.
Kedigdayaan daun afrika juga didukung kemampuannya untuk dapat hidup di berbagai jenis tanah dan cuaca, pantai hingga puncak gunung. Daun afrika pastinya akan memunculkan varian ecotype, tetapi dia tetap eksis di semua zona vegetasi di kawasan tropika dan sub-tropika. Bukan tidak mungkin, daun afrika juga dapat mengancam superioritas tumbuhan kutub. Karena nyaris kosmopolitan, maka daun afrika meraih suara hampir dari segala golongan demografi.
Daun afrika yang memang bukan basa-basi dari afrika asal usulnya, tidak asal hadir hingga ke negeri Cina. Cina bahkan yang awalnya menyadari kehebatan tanaman perdu ini. Daun afrika telah lama memenangi hati orang Tiongkok dalam memilih herba berkhasiat. Konon, bukan hanya juri jelata yang memberikan predikat juara pada daun afrika, tetapi juga juri istana.


Minggu, 03 Mei 2015

Asam Kojik Kojic Acid Lebih Unggul dan Lebih Aman Ketimbang Hidroquinon

Empat belas tahun lalu dokter Universitas Diponegoro telah membuktikan secara ilmiah bahwa asam kojik (kojic acid) lebih unggul daripada hidroquinon. Lantas mengapa klinik-klinik dokter kulit masih menggunakan zat mengandung zat berbahaya hidroquinon?
Pengobatan melasma (sunda: kokoloteun) membutuhkan waktu, ketekunan dan kesabaran, namun seringkali hasilnya kurang mernuaskan. Ada beberapa macam pengobatan untuk melasma, baik berupa pengobatan topikal, sistemik maupun tindakan khusus, tetapi cara pengobatan yang paling banyak dilakukan adalah pengobatan topikal.
Hidrokuinon sampai saat ini masih merupakan obat topikal yang paling banyak digunakan untuk pengobatan melasma, namun seiring dengan banyaknya efek samping, saat ini banyak dikembangkan bahan pemutih lain yang sama atau lebih efektif namun bersifat kurang iritatif dibandingkan dengan hidrokuinion, termasuk asam kojik.
Asam kojik (lebih tepatnya sesuai nomenklatur Indonesia: asam kojat) merupakan hasil fermentasi jamur beras/ jamur kacang hijau yang mulai digunakan di Jepang sejak tahun 1990-an.  Adalah Retno Sawitri yang menyusun tesis magister di Fakultas Kedokteran Undip. Retno membandingkan hasil pengobatan melasma menggunakan asam kojik 4% dengan hidrokuinon 4%, serta mengetahui efek sampingnya.
Penelitian yang dilakukan bersifat studi acak terkontrol buta ganda pada 90 orang perempuan yang dikelompokkan secara randomized permutted block dan masing-masing mendapatkan pengobatan dengan hidrokuinon 4% atau asam kojik 4% digunakan pada malam hari, dan tabir surya pada pagi dan siang hari selama 10 minggu dengan evaluasi setiap 2 rninggu.
Penilaian kesembuhan klinis dilakukan dengan menilai pengurangan nilai MASI (Melasina Area and Severity Index). Hasil penelitian memmjukkan hasil pengobatan melasma menggunakan asam kojik 4% lebih baik dibandingkan dengan hidrokuinon 4%, sedangkan efek samping yang terjadi pada kelompok asam kojik 4% lebih sedikit dan lebih ringan daripada kelompok hidrokuinon 4%.
Bahan depigmentasi topikal yang paling banyak digunakan untuk pengobatan melasma adalah hidroquinon, yang pertama kali digunakan pada sekitar 1961 oleh Spencer dkk. Sekitar 35 tahun terakhir ini dikembangkan berbagai preparat topikal untuk pengobatan melasma, seperti asam azaleat, asam retinoat, asam kojat, asam askorbat, arbutin, vitamin E, serta ekstrak tumbuhan sebagai alternatif penggunaan hidroquinon.
Hidroquinon merupakan preparat depigmentasi yang paling sering digunakan dengan konsentrasi antara 2% - 5%, dan masih merupakan terapi yang memiliki efektivitas yang tinggi. Titik tangkap hidroquinon pada pengobatan melasma adalah:

  1. menghambat kerja enzim tirosinase pada melanosit
  2. mempunyai efek sitotoksik selektif pada melanosit
  3. meningkatkan degradasi melanosom
  4. menurunkan aktivitas melanosit
  5. merusak melanosit
  6. menurunkan produksi melanosom

Penggunaan hidroquinon yang lebih lama dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan, terutama pada konsentrasi tinggi, berupa okronosis, yaitu pigmentasi berbentuk jala pada wajah. Selain itu, efek samping lain yang dapat timbul akibat penggunaan hidroquinon adalah eritem, rasa terbakar, hiperpigmentasi pasca inflamasi, reaksi dermatitis kontak iritan/alergika, confetti-like depigmentation dan perubahan warna kuku.
Selain itu hidroquinon bersifat mudah teroksidasi sehingga menyebabkan warna obat menjadi kecoklatan dan berkurang potensi obat. Preparat hidroquinon sebaiknya dihabiskan dalam waktu 30 hari, dan disimpan dalam wadah tidak tembus cahaya serta dijauhkan dari sinar matahari.
Asam kojik adalah suatu bahan yang merupakan hasil fermentasi dari jamur Aspergillus oryzae dan Aspergillus sojae yang berasal dari beras/kacang hijau, pertama kali dilaporkan oleh Teijiro Yabuta pada 1924. Sejak awal 1990-an digunakan di Jepang sebagai bahan depigmentasi alternative karena banyaknya efek samping hidroquinon. Selain itu, asam kojik mulai banyak digunakan karena secara farmakologik lebih stabil daripada hidroquinon.

Titik tangkap asam kojik pada pengobatan melasma adalah:

  1. Menghambat enzim dopa-chrome tautomerase sehingga terjadi supresi tautomerisasi menjadi DHICA
  2. Menghambat pembentukan eumelanin
  3. Menurunkan jumlah eumelanin
  4. Merusak melanosit
  5. Mengurangi transfer melanin ke keratinosit

Selain itu, hebatnya asam kojik mempunyai sifat mengabsorpsi radiasi UV, efek antimikroba lemah, antijamur, anti iritasi, hidrofobik serta mempunyai efek rehidrasi dan menghaluskan kulit.

Preparat asam kojik mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan hidroquinon antara lain efek samping relatif ringan, stabil dalam waktu lama sehingga tidak menimbulkan perubahan warna obat. Formula asam kojik dilaporkan mempunyai efektivitas yang sama dengan hidroquinon.

Sabtu, 25 April 2015

Wajah Jadi Putih dengan Hasil Fermentasi Jamur Beras

Untuk mereka yang terobsesi memiliki kulit putih bersih, kini dapat memperoleh ramuan yang mengandung asam kojic. Zat ini bernama kojic acid (atau asam kojat), berasal dari hasil samping fermentasi beberapa jamur (fungi), terutama Aspergillus orizae atau biasa disebut koji di Jepang.
Pada 2006, R. Bentley telah menulis laporan pada suatu jurnal ilmiah dengan judul "From miso, sake and shoyu to cosmetics: a century of science for kojic acid". Ya, betul, dari aneka makanan Jepang berubah wujud menjadi kosmetika.
Jauh sebelumnya, adalah Teijiro Yabuta yang pada 1924 telah melaporkan penelitiannya pada Journal of the Chemical Society dengan judul "The constitution of kojic acid, a gamma-pyrone derivative formed by Aspergillus oryzae from carbohydrates".
Kojic acid atau 5-hydroxy-2-hydroxymethyl-4-pyrone, telah banyak digunakan sebagai bahan pemutih pada produk-produk kosmetik dengan konsentrasi penggunaan maksimum 1%. Asam kojic ternyata memiliki efek sebagai inhibitor kompetitif dan reversible pada oksidase polifenol baik pada tanaman maupun hewan, yaitu menghambat tirosinase, yang mengkatalisis perubahan tirosin menjadi melanin. Asam kojic menghambat melanosis dengan cara mengganggu  pengambilan oksigen yang diperlukan untuk proses “pencoklatan’ (browning) secara enzimatik.
Metode spektrofotometri dan kromatografi menunjukkan bahwa asam kojic  mampu mengurangi o-kuinon menjadi diphenols untuk mencegah terbentuknya hasil akhir yaitu pigmen melanin.  Karena itulah ia banyak digunakan sebagai agen pencerah kulit dalam preparat kosmetik dan dermatologis lainnya.
Tidak itu saja, asam kojic juga memiliki sifat insektisida karena efek penghambatan pada tirosinase  serta kemampuannya untuk berinteraksi dengan o-kuinon dari katekolamin, sehingga mencegah proses sclerotization.
Karena sifat penghambatannya pada berbagai oksidase, asam kojic juga telah digunakan secara komersial selama bertahun-tahun di Jepang sebagai bahan tambahan makanan, misalnya sayuran segar, kepiting, dan udang, untuk mempertahankan kesegaran sebagai antioksidan dan menghambat perubahan warna.
Selain itu, asam kojic juga digunakan sebagai  pengawet, sebagai antioksidan untuk lemak dan minyak, dan agen pengatur pertumbuhan tanaman untuk meningkatkan produksi, mempercepat pematangan, dan meningkatkan rasa manis. Asam kojic juga memiliki sifat antimikroba lemah dan aktif terhadap beberapa strain bakteri.

Apakah aman?
Sebagai agen pemutih kulit, asam kojic tidak bersifat karsinogenik. Jadi tidak seperti hidroquinon yang berpotensi menyebabkan penyakit kanker. Namun demikian beberapa orang yang kulitnya sensitif dilaporkan mengalami semacam dermatitis kontak, sejenis alergi kulit  yang ditandai dengan  gatal  kemerahan, iritasi. Untuk itu, kadang dalam krim yang mengandung asam kojic, dapat juga ditambahkan bahan lain sebagai anti alergi yaitu kortikosteroid topikal.
Asam kojic ini menjadi semakin popular dan meningkat penggunaannya karena memiliki keamanan lebih baik dari pendahulunya yaitu hidroquinon. Bagi mereka yang sensitif terhadap asam kojic tentu perlu mempertimbangkan penggunaannya.
Produk asam kojic paling sering digunakan untuk penggunaan topical (kulit), dalam bentuk lotion, krim, atau serum.  Dosis yang dianjurkan relatif kecil, dengan konsentrasi maksimum sebesar 1%. Namun untuk mengurangi kemungkinan efek samping, produk kosmetik pencerah kulit dapat menggunakan konsentrasi sekitar  0,2%.

Selain krim, kojic acid juga dapat dijumpai dalam bentuk sabun, bahkan sediaan injeksi.  Tentu saja, kita juga harus mempertimbangkan bagaimana senyawa ini akan bereaksi dengan tubuh. Mereka yang mengalami kepekaan mungkin perlu untuk menggunakannya lebih jarang dan mengevaluasi kembali penggunaannya.

Kamis, 16 April 2015

2 Alasan Berhenti Minum Teh Botol dan Kotak

Teh siap minum dalam kemasan yang sering menjadi teman makanan apa saja, memiliki setidaknya 2 kandungan yang menurut para ahli gizi mengancam kesehatan Anda.
  1. Gula glukosa yang dapat menumpuk dan pada saatnya berpeluang menjadikan Anda penderita diabetes, jika gaya hidup teh botolan itu tidak dihentikan
  2. Pengawet atau mikroba jika dinyatakan tidak berpengawet
Sebagian orang menganggap minuman teh dalam kemasan terlalu manis. Karena itu air “doang” dalam kemasan masih menjadi pilihan utama konsumen yang sedang dalam perjalanan.
Bagi orang, yang memiliki kesadaran dan pengetahuan mengenai nutrisi, gizi, dan kalori, minuman teh manis itu juga merisaukan. Manis bisa berisiko kena kencing manis; kalori tinggi menyebabkan kegemukan atau pendek umur. Mereka pikir begitu.
Sudah lebih dari 10 tahun saya mencoba menawarkan inovasi industri minuman teh dalam kemasan. Minuman yang (akan) diberi merk Frink ini terdiri dari teh hijau asli, gula asli, dan terkandung asam-asam organik kompleks. Sama sekali tidak ada bahan kimia sintetik seperti gula siklamat atau sakarin, tidak menggunakan aroma sintetik, dan tidak menggunakan asam industri, serta tidak menggunakan pengawet makanan kimia.
Selain menggunakan bahan-bahan alami dan diproduksi secara bioproses, minuman ini dapat dibuktikan khasiat herbal yang terkandung di dalamnya. Berbeda dengan minuman teh dalam kemasan pada umumnya, yang justru kurang baik bagi kesehatan.
Meski pun teh, apalagi teh hijau, yang oleh para ilmuwan dibuktikan memiliki khasiat penyembuhan, tetapi kenyataannya tidak ada pengakuan positif dari konsumen, yang rajin minum teh botol atau teh kotak, yang sembuh dari keluhan kesehatan sebagaimana seharusnya yang diperoleh jika orang rajin minum teh.
Berbeda dengan Frink, semua konsumen merasakan manfaat kesehatan dari teh sebagaimana ditulis dalam buku kesehatan populer atau kitab pengobatan kuno.
Karena saya tidak cukup kaya dan tidak cukup pandai memengaruhi pemikiran orang kaya yang berminat membangun industri minuman alternatif ala Frink ini, maka saya pun hanya ala kadarnya memroduksi skala rumah. Sudah tentu usaha ini tidak cukup tampak prospektif sebagai bisnis. Bagi saya ini sekadar untuk menjaga kesehatan pribadi agar cukup kuota umur untuk terus membangun impian, sambil terus melanjutkan inovasi, dengan harapan suatu hari nanti menemukan formula yang sangat layak secara industri, atau bertemu pengusaha gila yang mau percaya bahwa inovasi ini dapat mewujud menjadi trend setter dalam industri minuman.

Frink, new paradigm on beverage industry
Kenapa gila? Ya karena jarang sekali ada pengusaha mapan yang mau menerima paradigma non-mainstream. Kursus manajemen bisnis mengajarkan kaizen dan konsep manajemen inovasi ala Jepang itu sudah menjadi idola para pebisnis. Di dalam kaizen dituntut ada perbaikan kualitas terus menerus, tetapi gradual, dan bukan lompatan tak lazim.
Beberapa tahun silam, dalam wisata pustaka ke Gramedia, saya menemukan  buku  Blue Ocean Strategy. Setelah membeli dan membaca karya W. Chan Kim dan Renée Mauborgn ini, saya pikir yang saya lakukan sesuai dengan konsep yang diterbitkan oleh Harvard Business School Press pada 2005 itu. Frink, minuman yang dengan bioproses, diturunkan kalori dan derajat kemanisannya oleh jasad renik dalam produksi, merupakan produk unik yang menantang logika strategi industri minuman berbasis teh dalam kemasan.
Menurut Kim terdapat empat pertanyaan kunci untuk menantang logika strategi dan model bisnis sebuah industri:

  • Faktor apa saja yang harus dihapuskan dari faktor-faktor yang telah diterima begitu saja oleh industri? (Frink tidak mau menggunakan gula palsu, flavor, dan pengawet).
  • Faktor apa saja yang harus dikurangi hingga dibawah standar industri? (Frink rendah kalori)
  • Faktor apa saja yang harus ditingkatkan hingga di atas standar industri? (Frink mengandung asam organik hasil dari bioproses)
  • Faktor apa saja yang belum pernah ditawarkan industri sehingga harus diciptakan? (Minuman yang nikmat, menyegarkan, dan MENYEHATKAN)

Saya akui, untuk benar-benar memenuhi konsep, strategi, dan implementasi sebagai produk yang memasuki lautan biru kompetisi, saya mesti banyak belajar, bereksperimen, melakukan focus group discussion (FGD) bersama konsumen-konsumen captive dari produksi rumahan sekarang ini, dan tetap berharap ada orang yang berkenan menjadi investor sekaligus mentor bisnis saya. Doakan ya.

Segenap proses, produk, dan merk yang ditemukan sepanjang perjalanan menggapai cita-cita yang terlalu tinggi ini, menurut saya melebihi tujuan mencari uang dan membangun bisnis. Saya lebih terdorong oleh rasa penasaran menikmati sesuatu yang terkandung dalam motto berbahasa latin Ars longa vita brevis. Sangat terobsesi.

Ancaman Kekurangan Pangan Nasional di Masa Depan

Ketahanan pangan nasional mengalami perubahan cepat akibat pertumbuhan penduduk, infrastruktur pertanian yang rusak, penurunan jumlah rumah tangga petani, hingga proses transformasi struktural yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Berikut adalah penjabarannya:

  • Laju Pertumbuhan Penduduk Meningkat

Jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 238,5 juta jiwa (Sensus Penduduk 2010). Indonesia menjadi negara terbesar ke-4 di dunia dalam jumlah penduduk di bawah China, India, dan Amerika Serikat. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia rata-rata tercatat sekitar 1,5 persen per tahun atau penduduk Indonesia bertambah sekitar 32,5 juta jiwa selama 10 tahun terakhir. Dengan laju sebesar itu, Indonesia merupakan kontributor ke-5 terbesar bagi pertambahan penduduk dunia, setelah China, India, Brasil dan Nigeria.
Jumlah penduduk Indonesia akan mendekati 400 juta jiwa pada 2045, yaitu pada saat 100 tahun Indonesia merdeka). Weis, mantap, Bo, sekali lagi, 400 juta orang tumpek blek di suatu negara kepulauan yang letaknya strategis secara geografis. “Keberhasilan” menjadi negara paling ramai di jantung pertumbuhan ekonomi asia ini akan diraih jika Indonesia gagal mencapai penurunan angka kelahiran.
Kabar gembiranya Indonesia juga mendapatkan “karunia” bonus demografi. Periode Bonus Demografi (Demografi Dividen) terjadi selama 2012-2035 dengan puncaknya terjadi pada periode 2028-2031. Penurunan rasio ketergantungan, hingga dibawah 50% (2 orang usia produktif menanggung kurang dari 1 orang usia non-produktif), memberikan kesempatan ekonomi Indonesia untuk tumbuh lebih cepat dan terjadi perbaikan kualitas SDM.

  • Tekanan Penduduk terhadap Ketahanan Pangan Membesar

Dalam konteks pangan, perkembangan kuantitas penduduk Indonesia membawa dampak pada perubahan kebutuhan dan produksi pangan nasional. Kebutuhan pangan bertambah seiring pertambahan jumlah penduduk. Pertambahan kebutuhan pangan menjadi tidak linier mengingat pada saat yang bersamaan struktur umur didominasi oleh penduduk usia produktif yang memiliki kebutuhan konsumsi lebih besar dibandingkan dengan kelompok penduduk usia non-produktif.
Berbicara tentang kebutuhan pangan Indonesia, salah satu komoditi terpenting ialah beras yang menjadi makanan pokok sebagian besar penduduk. Hal yang menarik, ternyata konsumsi beras per kapita di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia.
Diperkirakan, rata-rata konsumsi beras per kapita mencapai sekitar 139 kg per tahun. Dengan jumlah penduduk sekitar 238 juta jiwa, dibutuhkan setidaknya 34 juta ton beras per tahun. Produksi beras dalam negeri pada 2010 lalu hanya sekitar 38 juta ton, menyisakan surplus hanya sekitar 4 juta ton beras per tahun. Artinya, dalam keadaan darurat hanya mampu memenuhi kebutuhan tidak sampai dua bulan.
Kebutuhan lahan untuk aktivitas non-pertanian terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk. Akibatnya, terjadi konversi lahan pertanian menjadi non-pertanian. Hal ini justru dialami oleh lahan-lahan pertanian yang paling produktif (”kelas 1”) karena umumnya memiliki akses jalan paling baik.
Kondisi ini tentu bisa mengancam kemampuan produksi pangan nasional. Selama periode 2007-2010, data Kementan mencatat penurunan lahan pertanian mencapai angka 600 ribu hektare. Jika laju konversi lahan seperti ini, ketersediaan lahan pertanian sekitar 3,5 juta hektare (2010) akan habis sebelum 2030. Solusi yang sering muncul adalah pembukaan lahan pertanian baru di luar Jawa. Tetapi perlu dipahami bahwa pengusahaan lahan pertanian yang optimal membutuhkan gestation period tertentu dan dukungan infrastruktur khusus sehingga tidak mudah dalam jangka pendek mengganti lahan-lahan pertanian yang telah terkonversi dengan lahan lainnya. Distribusi penduduk antarpulau yang tidak merata juga menjadi tantangan tersendiri dalam membangun ketahanan pangan Indonesia.
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010, sekitar 57,4 persen penduduk Indonesia diperkirakan tinggal di Jawa, Madura dan Bali, sekitar 21,3 persen di Sumatera, dan sisanya dalam jumlah yang lebih kecil tersebar di Kalimantan (5,8 persen), Sulawesi (7,3 persen), serta hanya sebagian kecil yang tinggal di Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara.
Permasalahan logistik muncul saat konsentrasi penduduk dan sentra pangan tidak sama. Tingginya biaya logistik menyebabkan harga pangan menjadi mahal dan memperburuk ketahanan pangan nasional serta ketimpangan kesejahteraan antardaerah.

  • Rumah Tangga Petani (RTP) Berkurang

Hasil Sensus Pertanian 2013 (ST2013) menunjukkan, jumlah rumah tangga petani pada 2013 tercatat 26,14 juta rumah tanggapetani (RTP) atau terjadi penurunan sebanyak 5,04 juta RTP dari 31,17 juta RTP pada 2003. Laju penurunan 1,75 persen atau lebih dari 500 ribu rumah tangga per tahun perlu diinterpretasikan secara hati-hati. Pada ST2013, RTP didefinisikan sebagai “rumah tangga yang salah satu atau lebih anggota rumah tangganya mengelola usaha pertanian dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual, baik usaha pertanian milik sendiri, secara bagi hasil, maupun milik orang lain dengan menerima upah, dalam hal ini termasuk jasa pertanian”.
Apabila penurunan jumlah RTP berhubungan dengan meningkatnya jumlah rumah tangga yang bekerja di sektor industri dan jasa — yang juga ditunjukkan oleh meningkatnya pangsa sektor industri dan jasa dalam perekonomian atau dalam Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia— tentu fenomena tersebut merupakan proses alamiah dari pembangunan ekonomi.
Jumlah petani gurem terbanyak berada di Pulau Jawa, yaitu 10,2 juta rumah tangga, disusul Sumatera 1,8 juta rumah tangga petani, serta Bali dan Nusa Tenggara sebesar 900 ribu rumah tangga petani. Petani gurem di Sulawesi dan Kalimantan tercatat cukup kecil, yaitu masing-masing 640 ribu dan 280 ribu rumah tangga. Sekadar catatan, interpretasi terhadap jumlah petani gurem dapat bermacam-macam, tergantung pada sudut pandang yang diambil. Tapi, hal yang hampir pasti adalah bahwa karena sebagian besar petani gurem itu berada di Jawa (70 persen), hanya 30 persen dari seluruh petani di Jawa yang dapat dikatakan berkecukupan dan tidak terjerat kemiskinan.
Apabila terdapat ancaman penurunan produksi dan produktivitas pangan umumnya pertanian karena faktor perubahan iklim, gagal panen, bencana alam, atau persoalan teknis budidaya, para petani gurem di Jawa ini akan rentan sekali menjadi miskin.
Hasil ST2013 juga menunjukkan peningkatan jumlah perusahaan pertanian selama 10 tahun terakhir, yang tentu memiliki konsekuensi yang tidak kalah rumit. Jumlah RTP dan perusahaan pertanian di Jawa semakin berkurang, sedangkan di luar Jawa justru semakin bertambah.
Penjelasan yang paling rasional terhadap fenomena tersebut salah satunya karena adanya peningkatan jumlah dan areal perusahaan perkebunan secara besar-besaran selama 10 tahun terakhir, terutama kelapa sawit. Areal perkebunan besar kelapa sawit yang telah mencapai 9 juta hektare pada 2013, pada satu sisi, mungkin perlu diapresiasi.
Tapi pada sisi lain, penurunan luas areal petani kecil kelapa sawit menjadi hanya sekitar 41 persen, sementara perkebunan besar mencapai 59 persen. Sedangkan proses alih fungsi lahan sawah menjadi kegunaan lain mencapai 100 ribu hektare per tahun, terutama di Jawa. Ini tentu merupakan fenomena serius yang harus segera diselesaikan.
Secara makro, kondisi ketenagakerjaan di Indonesia menunjukkan bahwa 34 persen pekerja bekerja di sektor pertanian. Sementara itu, kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian Indonesia hanya sekitar 15 persen. Ini menunjukkan, sektor pertanian menanggung beban tenaga kerja yang terlalu berat, sehingga produktivitas dan pendapatan petani menjadi rendah (lihat penjelasan pada sub-bab Transformasi Struktural berikut).
Hal ini menjadi salah satu sebab tidak tertariknya generasi muda untuk masuk dan bekerja di sektor pertanian. Belum lagi fakta bahwa sekitar 72 persen pekerja di sektor pertanian hanya berpendidikan sekolah dasar (SD) ke bawah.

  • Konversi Lahan Tinggi

Laju konversi lahan pertanian mencapai 100 ribu hektare per tahun, sementara pencetakan sawah baru hanya mencapai 50 ribu hektare per tahun. Tingkat kebutuhan lahan untuk perumahan dan industri sangat cepat karena pertumbuhan penduduk yang meningkat kembali dalam lima tahun terakhir. Pertumbuhan penduduk berkontribusi pada konversi lahan sawah sebesar 141 ribu hektare dalam tiga tahun pada periode 1999-2002 (Departemen Pertanian, 2005).
Estimasi lain tentang alih fungsi lahan selama sepuluh tahun terakhir telah mencapai 602,4 ribu hektare atau 60 ribu hektare per tahun (Data Badan Pertanahan Nasional, 2005). Walaupun konsistensi data dari berbagai sumber yang berbeda masih perlu diverifikasi kebenarannya, bukti kasat mata di lapangan telah banyak menunjukkan laju konversi lahan sawah produktif menjadi kegunaan lain yang cukup pesat, mulai dari perumahan dan pemukiman, industri dan kebutuhan perkotaan lain hingga lapangan golf, terutama di daerah penyangga kota-kota besar.
Ancaman nyata dari laju konversi lahan sawah produktif menjadi kegunaan lain adalah penurunan produksi pangan, terutama pangan pokok seperti beras. Produksi padi yang mencapai 69 juta ton GKG pada 2014 atau menurun 1,99 persen dibandingkan dengan produksi 2013 menjadi bukti kuat bahwa penurunan produksi pangan telah berada pada lampu merah.
Suka atau tidak suka, kinerja produksi beras sampai saat ini masih menjadi indikator ekonomi (dan politik) dalam mengevaluasi kinerja pemerintahan. Di tingkat akademik, para ahli telah sepakat bahwa kinerja ketahanan pangan nasional jauh lebih bermakna dan strategis dibandingkan dengan indikator produksi fisik semata.
Titik pangkal masalahnya bukan terletak pada ketiadaan perangkat hukum yang melindungi lahan sawah, melainkan lebih pada komitmen, keseriusan, dan kemampuan aparat negara dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan yang dimiliki Indonesia. Pada tingkat strategis, Indonesia memiliki UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pangan Berkelanjutan. UU tersebut sebenarnya merupakan amanat dari UU No. 26/2007 tentang Tata Ruang, yang sampai saat ini sulit dilaksanakan karena hanya belasan provinsi yang telah menyelesaikan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) seperti disyaratkan. Dari sekitar 500 daerah otonom yang ada di Indonesia, pasti tidak terlalu banyak kabupaten/kota yang telah menyelesaikan RTRW. Menariknya lagi, sampai saat ini, Pemerintah Pusat tidak mampu memberikan sanksi yang tegas terhadap provinsi dan kabupaten/kota yang tidak mematuhi UU No. 26/2007 yang sebenarnya dibuat untuk kepentingan bersama dan kemaslahatan seluruh warga Indonesia.
Dalam suatu proses transformasi ekonomi, konversi sawah produktif menjadi kegunaan lain lumrah terjadi dan tidak dapat dihindarkan, terutama apabila perangkat kelembagaan yang ada tidak mampu mencegah atau mengendalikannya secara baik. Sistem insentif dan kebijakan pertanahan di Indonesia nampaknya tidak terlalu mendukung untuk terciptanya pengawasan yang berlapis yang mampu mengendalikan laju konversi sawah produktif tersebut.
Perumusan dan kebijakan RTRW di tingkat provinsi dan kabupaten/kota seakan tidak mendukung upaya pengendalian alih fungsi sawah produktif menjadi kegunaan lain. Fenomena otonomi daerah (Otda) sampai saat ini masih belum dapat menjadi jawaban ampuh untuk mengendalikan laju konversi lahan.
Secara legal formal, Indonesia telah memiliki perangkat hukum berupa UU No. 41/2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang seharusnya mampu menanggulangi persoalan kepastian hukum di bidang alih fungsi lahan sawah. Karena laju konversi lahan sawah dan alih fungsi dan kepemilikan lahan pertanian terus terjadi, banyak yang berpendapat bahwa UU No. 41/2009 tersebut mandul akibat belum adanya peraturan pelaksanaan UU itu.
Indonesia telah memiliki Peraturan Pemerintah (PP) No. 1/2011 tentang Penetapan dan Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, PP No. 12/2012 tentang Insentif Perlindungan Lahan Pertanian Pangan, dan PP No. 25/2012 tentang Sistem Informasi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dan PP No. 30/2012 tentang Pembiayaan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Aturan lebih teknis Peraturan Menteri Pertanian Nomor 07/Permentan/OT.140/2/2012 tentang Pedoman Teknis Kriteria dan Persyaratan Kawasan, Lahan, dan Lahan Cadangan Pertanian Pangan Berkelanjutan juga telah diundangkan.
Setelah sekian Peraturan Pemerintah dikeluarkan, tetapi laju konversi lahan sawah subur masih juga berlangsung. Maka, pendekatan lain perlu ditempuh.
Pendekatan itu berupa insentif dari Pemerintah Pusat dan provinsi seperti pengembangan infrastruktur pertanian serta pembiayaan penelitian dan pengembangan benih dan varietas unggul. Dalam hal ini, Pemda perlu menambah insentif dengan keringanan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Peningkatan kepastian hukum berupa perlindungan lahan pertanian, terutama lahan pangan subur dan beririgasi teknis, jelas tidak memadai jika hanya dilakukan melalui pendekatan formal belaka. Pelaksanaan kebijakan teknis pertanian, penyaluran benih unggul, bimbinganpenyuluhan dan pendampingan petani, penjaminan harga jual, dan lain-lain akan lebih memadai. Aparat negara di pusat dan daerah wajib lebih ofensif dalam melaksanakan kebijakan teknis di atas. Tentu saja skema penalti dan struktur penegakan hukum dalam menerapkan sanksi juga perlu lebih tegas.

(SUMBER: Memperkuat Ketahanan Pangan Demi Masa Depan Indonesia 2015 - 2025, Badan Intelijen Negara, Muhammad AS Hikam, Editor, CV Rumah Buku, Jakarta, 2014)

Rabu, 01 April 2015

Daun Afrika, Juru Rawat Sikat Jerawat

Persoalan kecil, tetapi terlampau sulit untuk diabaikan, sebab menghinggapi muka, dan membuat kaum remaja merasa bakal kehilangan muka. Itulah fenomena jerawat, bikin galau.

Tenang, sekarang ada daun afrika. Ga becanda bahwa pohon, yang bernama ilmiah nan cantik Vernonia amygdalina Del ini, sudah dibuktikan oleh peneliti dari perguruan tinggi paling kesohor di Sumatera, yaitu Universitas Sumatera Utara.

Ekstrak daun afrika yang diaplikasikan dalam bentuk krim telah meyakinkan mampu mengalahkan kuman bakteri penyebab jerawat. Jerawat adalah suatu proses peradangan kronik kelenjar-kelenjar pilosebasea. Keadaan ini sering dialami oleh remaja dan dewasa muda yang akan menghilang dengan sendirinya pada usia sekitar 20-30 tahun. Ada juga orang setengah baya yang mengalami jerawat. Jerawat biasanya berkaitan dengan tingginya sekresi sebum.

Propionibacterium acne dan Staphylococcus epidermidis adalah organisme utama yang pada umumnya memberi kontribusi terhadap terjadinya jerawat. P. acnes adalah termasuk gram-positif berbentuk batang, tidak berspora, sedangkan S. epidermidis sel gram positif berbentuk bulat, biasanya tersusun dalam bentuk kelompok-kelompok yang tidak teratur seperti anggur. Semuanya tentunya jika dilihat di bawah mikroskop dengan teknik pewarnaan tertentu.

Pengobatan jerawat di klinik kulit biasanya menggunakan antibiotik, benzoil peroksida dan retinoid. Obat ini memiliki efek samping antara lain iritasi. Oleh karena itu dicari alternatif dalam pengobatan jerawat dengan menggunakan bahan-bahan alam yang berkhasiat sebagai antibakteri yaitu daun afrika.

Daun Afrika banyak tumbuh di benua Afrika bagian barat terutama di Nigeria dan negara yang beriklim tropis salah satunya adalah Indonesia. Pada tahun 2009, telah dilakukan pembudidayaan tanaman daun afrika di Bogor. Tanaman ini mudah tumbuh pada daerah yang curah hujan cukup tinggi.

Daun afrika mengandung flavonoid, tanin, saponin dan terpenoid yang mampu membunuh parasit penyebab schistosomiasis, malaria, leishmaniasis. Daun afrika juga telah terbukti secara ilmiah berfungsi sebagai antiamoeba, antitumor dan antimikroba.

Salah satu alternatif sediaan yang dapat digunakan untuk pengobatan jerawat adalah sediaan topikal misalnya krim. Sifat umum sediaan krim ialah mampu melekat pada permukaan tempat pemakaian dalam waktu yang cukup lama sebelum sediaan ini dicuci atau dihilangkan. Krim dapat melembapkan dan mudah tersebar merata, mudah berpenetrasi pada kulit,mudah diusap, dan mudah dicuci air.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dibuat formula ekstrak etanol daun afrika dalam bentuk sediaan krim untuk pengobatan jerawat. Sediaan krim dipilih karena mempunyai keuntungan yaitu sederhana dalam pembuatannya, mudah dalam penggunaan, daya menyerap yang baik dan memberikan rasa dingin pada kulit.

Selain dalam bentuk krim, di Bandung juga telah diproduksi sabun wajah yang mengandung ekstrak daun afrika. “Sabun ini berbasis herbal dan virgin coconut oil,” kata Santhy Sri Yunita pemilik Bydara Salon & Spa Herbal Treatment. “Seorang ibu yang mencobanya melaporkan bahwa sabun mengandung ekstrak daun afrika ini menyembuhkan jerawat anak remajanya,” kata Santhy sambil menunjukkan sabun ekstrak daun afrika pertama dan satu-satunya di dunia.

Prototype sabun wajah anti jerawat yang mengandung daun afrika

Selasa, 31 Maret 2015

Latihan Menulis dengan Manis

Apakah mengarang itu bakat? Tentu tidak. Jadi semua orang, termasuk yang merasa tidak berbakat, (bakal) bisa mengarang tulisan? Pasti! Tentu saja itu tulis-menulis di level kemampuan teknis. Jika Anda tidak atau belum memiliki kemampuan menulis, ya ikuti saja pelatihan teknis menulis, pasti bisa.
Namun, apakah Anda akan menjadi penulis dengan kualitas "Enak Dibaca dan Perlu", seperti tagline majalah Tempo, itu tergantung pada faktor lain. Seperti lukisan, semua pasti bisa dilatih melukis, menggambar dulu bentuk-bentuk, lalu meningkat pada aplikasi warna-warni.
Untuk memiliki karya tulis yang enak dibaca, bakat menjadi faktor penting. Seperti pada seni lukis, apakah karya Anda itu sekadar terpajang di dinding rumah sendiri, atau indah menggugah khalayak, itu tergantung bakat, kata maestro lukis Bandung Pak Barli, alm..
Lalu, soal apakah karangan Anda perlu dibaca (orang), itu juga menyangkut bakat dan ketrampilan di luar domain penulisan. Signifikansi keterbacaan ditentukan oleh kualitas isi kepala Anda: sensitivitas menangkap masalah penting, mungkin malah dari hal sepele; kekritisan; logika, analogi, metafora; keluasan pengetahuan dan cakrawala pikiran.
Biasanya untuk menutupi kualitas isi kepala yang dangkal, Anda bisa mencoba kiat yang dikerjakan oleh banyak penulis picisan, yaitu menyontek alias copy paste. Memalukan memang, tapi mungkin tidak banyak yang mengetahui kebobrokan Anda jika menerbitkan tulisan tersebut di lingkungan sendiri dan terbatas.
Okelah, mungkin Anda tidak atau belum tahu apakah Anda memiliki bakat dan kemampuan menulis karangan yang baik. Ya Anda menulis saja di tataran teknis, teknik menulis. Berikut ini beberapa masalah dan penyelesaian dalam hal teknik memulai membuat karya tulis.

Bingung memilih topik

Lha, belum apa-apa, kok Anda sudah bingung. Biasanya orang yang menyatakan bingung memilih topik, aslinya memang tidak memiliki topik sama sekali. Topik itu mestinya sudah melekat dan menjadi bagian diri. Jadi tidak lah perlu bingung, jika banyak topik yang "mengganggu" panca indra Anda. Kata Aa Gym mulai lah dari diri sendiri, jadikan diri mu itu topik. Gitu aja kok repot.

Topik dari tugas

Bagaimana jika topik ditentukan oleh orang lain. Misalnya oleh atasan, dosen, guru, atau pacar (bagi yang berkenan menjadi joki sang pacar). Ga perlu repot juga. Langsung saja membuat kerangka karangan (outline). Outline bakal menuntun penulis mendetailkan topik.

Lalu apa saja yang ditulis?

Semuanya! Tulislah semuanya, selengkapnya. Sebagai panduannya Anda boleh menggunakan metode para wartawan. Indera mereka selalu menangkap HANYA 6 hal atas sebuah topik untuk diurai menjadi pokok-pokok berita, yaitu meliputi apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, bagaimana. Keenam aspek cerita ini biasa disebut 5W + 1H (what, who, where, when, why, how).

Lantas, apakah 3 panduan dasar ini serta-merta menyulap Anda mampu menulis dengan manis? Tentu saja belum, sabar. Sekarang Anda luangkan waktu dahulu untuk membaca contoh-contoh tulisan saya tentang 1 topik saja, yaitu daun afrika. Beberapa tulisan ini masuk dalam kategori highligth di Kompasiana. Jadi, perhatikan, satu topik saja, bisa menjadi ribuan cerita. Apakah masih sulit bagi Anda menulis satu saja pun?
http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2015/03/07/daun-afrika-semakin-meraja-728441.html

http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2015/03/08/daun-afrika-manfaat-medis-dan-manfaat-bisnis-728528.html

http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2015/03/29/dapatkah-daun-afrika-menghadang-meningitis-733854.html

http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2015/04/01/sangat-efektif-daun-afrika-mampu-membasmi-jerawat-734756.html

MODEL PEMBELAJARAN MENULIS

Ada 2 cara pendekatan dalam belajar menulis, yaitu:
1. PROSES;  meliputi lima tahap, yakni pramenulis, menulis draf, merevisi, menyunting, dan mempublikasi
2. IMAJINATIF; ini yang biasanya diajarkan guru di sekolah, yaitu Anda diminta untuk "berhayal", menuangkan imajinasi itu ke dalam tulisan, dan mempublikasikannya.
Sebaiknya belajar menulis itu berkelompok dan berdiskusi. Anda sebaiknya memilih fasilitator kelompok yang memiliki kompetensi sebagai guru-penulis atau penulis-guru.
Dulu, saat saya masih lugu (baca: lucu dan guobxxx), saya bertemu dengan seorang penulis produktif yang rutin menulis di koran paling top di Bandung. Saya bertanya padanya cara belajar menulis. Dia menjawab "ya mulai saja menulis, apa pun, bagaimana pun." Nah, inilah contoh penulis produktif tetapi bukan "guru."
Sedangkan dengan guru di sekolah, jelas tidak banyak yang bisa kita peroleh selain teori, tugas, dan pe-er.

TEKNIK PEMBELAJARAN MENULIS

1.   Teknik Keywords
2.   Teknik ATM (Amati-Tiru-Modifikasi)
3.   Teknik Laporan Perjalanan
4.   Teknik Pengandaian Terbalik